Cari Blog Ini

Senin, 09 Maret 2009

Pengertian Metode Ekspositori

     



Metode ekspositori adalah metode pembelajaran yang digunakan dengan memberikan keterangan terlebih dahulu definisi, prinsip dan konsep materi pelajaran serta memberikan contoh-contoh latihan pemecahan masalah dalam bentuk ceramah, demonstrasi, tanya jawab dan penugasan. Siswa mengikuti pola yang ditetapkan oleh guru secara cermat. Penggunaan metode ekspositori merupakan metode pembelajaran mengarah kepada tersampaikannya isi pelajaran kepada siswa secara langsung.


Penggunaan metode ini siswa tidak perlu mencari dan menemukan sendiri fakta-fakta, konsep dan prinsip karena telah disajikan secara jelas oleh guru. Kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode ekspositori cenderung berpusat kepada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi pembelajaran secara terperinci tentang materi pembelajaran. Metode ekspositori sering dianalogikan dengan metode ceramah, karena sifatnya sama-sama memberikan informasi.


Pada umumnya guru lebih suka menggunakan metode ceramah dikombinasikan dengan metode tanya jawab. Metode ceramah banyak dipilih karena mudah dilaksanakan dengan persiapan yang sederhana, hemat waktu dan tenaga, dengan satu langkah langsung bisa menjangkau semua siswa dan dapat dilakukan cukup di dalam kelas. Popham & Baker (1992 : 79) menjelaskan bahwa setiap penyajian informasi secara lisan dapat disebut ceramah. Penyajian ceramah yang bersifat formal dan biasanya berlangsung selama 45 menit maupun yang informal yang hanya berlangsung selama 5 menit. Ceramah tidak dapat dikatakan baik atau buruk, tetapi penyampaian ceramah harus dinilai menurut tujuan penggunaannya.


Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2000 : 13) metode ceramah adalah cara penyampaian bahan pelajara dengan komunikasi lisan. Metode ceramah lebih efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi dan pengertian. Margono (1989 : 30) mengem,ukakan bahwa metode ceramah adalah metode mengajar yang menggunakan penjelasan verbal. Komunikasi bersifat satu arah dan sering dilengkapi dengan alat bantu audio visual, demonstrasi, tanya jawab, diskusi singkat dan sebagainya. Lebih lanjut Hasibuan dan Moedjiono (2000 : 13) mengemukakan bahwa agar metode ceramah efektif perlu dipersiapkan langkah-langkah sebagai berikut: a) merumuskan tujuan instruksional khusus yang luas, b) mengidentifikasi dan memahami karakteristik siswa, c) menyusun bahan ceramah dengan menggunakan bahan pengait (advance organizer), d) menyampai-kan bahan dengan memberi keterangan singkat dengan menggunakan papan tulis, memberikan contoh-contoh yang kongkrit dan memberikan umpan balik (feed back), memberikan rangkuman setiap akhir pembahasan materi, e) merencanakan evaluasi secara terprogram. Metode retitasi adalah metode pembelajaran yang lebih dikenal dengan istilah pekerjaan rumah, meskipun sebutan ini tidak seluruhnya benar. Metode tanya jawab digunakan bersama dengan metode ceramah, untuk merangsang kegiatan berfikir siswa, dan untuk mengetahui keefektifan pengajarannya, sebagai mana diutarakan Popham & Baker (1992 : 89). Penerapan metode tanya jawab guru dapat mengatur bagian-bagian penting yang perlu mendapat perhatian khusus.


Dalam proses pembelajaran dengan metode ceramah harus peka terhadap respon siswa. Skiner dalam Driscoll (1994 : 30) menjelaskan bahwa diskripsi hubungan antara stimulan dan respon tidaklah sesederhana yang diperkirakan, melainkan stimulan yang diberikan berinteraksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini artinya mempengaruhi respon yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekwensi yang akan mempengaruhi tingkah laku siswa. Untuk menciptakan terjadinyan interaksi, menarik perhatian siswa dan melatih keterampilan siswa, metode ceramah biasanya dikombinasikan dengan metode tanya jawab dan pemberian tugas. Resitasi atau tugas dapat pula dikerjakan di luar rumah ataupun di dalam laboratorium. Pasaribu mengemukanan bahwa metode resitasi mempunyai tiga fase, yaitu : a) guru memberi tugas, b) siswa melaksakan tugas, dan c) siswa mempertanggung-jawabkan pada guru apa yang telah dipelajari (Sutomo, 2003: 45).


Menurut Sujadi (1983 : 3), di dalam pembelajaran matematika penggunaan metode ceramah dan tanya jawab tersebut masih ditambah dengan pemberian contoh-contoh berupa gambar-gambar, model bangunan, dan contoh rumus-rumus beserta penggunaannya. Guru menjelaskan materi dengan bantuan gambar atau model, untuk mempermudah penanaman konsep bangun datar dan ruang.


Percival dan Elington dalam Yeni Indrastoeti S.P (1999 : 43) menamakan model konvensional ini dengan model pembelajaran yang berpusat pada guru (the Teacher Centered Opproach). Dalam model pembelajaran yang berpusat pada guru hampir seluruh kegiatan pembelajaran dikendalikan penuh oleh guru. Seluruh sistem diarahkan kepada rangkaian kejadian yang rapi dalam lembaga pendidikan, tanpa ada usaha untuk mencari dan menerapkan strategi belajar yang berbeda sesuai dengan tema dan kesulitan belajar setiap individu.


Somantri (2001 : 45) membedakan metode ekspositori dan metode ceramah. Dominasi guru dalam metode ekspositori banyak dikurangi. Guru tidak terus bicara, informasi diberikan pada saat-saat atau bagian-bagian yang diperlukan, seperti di awal pemebelajaran, menjelaskan konsep-konsep dan prinsip baru, pada saat memberikan contoh kasus di lapangan dan sebaginya. Metode ekspositori adalah suatu cara menyampaikan gagasan atau ide  dalam memberikan informasi dengan lisan atau tulisan.


Menurut Herman Hudoyo(1998 : 133)  metode ekspositori dapat meliputi gabungan metode ceramah, metode drill, metode tanya jawab, metode penemuan dan metode peragaan. Pentatito Gunawibowo (1998 : 6.7) dalam pembelajaran menggunakan metode ekspositori, pusat kegiatan masih terletak pada guru. Dibanding metode ceramah, dalam metode ini dominasi guru sudah banyak berkurang. Tetapi jika dibanding dengan metode demonstrasi, metode ini masih nampak lebih banyak.


Kegiatan guru berbicara pada metode ekspositori hanya dilakukan pada saat-saat tertentu saja, seperti pada awal pembelajaran, menerangkan materi, memberikan contoh soal. Kegiatan siswa tidak hanya mendengarkan, membuat catatan, atau memperhatikan saja, tetapi mengerjakan soal-soal latihan, mungkin dalam kegiatan ini siswa saling bertanya. Mengerjakan soal latihan bersama dengan temannya, dan seorang siswa diminta mengerjakan di papan tulis. Saat kegiatan siswa mengerjakan latihan, kegiatan guru memeriksa pekerjaan siswa secara individual dan menjelaskan kembali secara individual. Apabila dipandang masih banyak pekerjaan siswa belum sempurna, kegiatan tersebut diikuti penjelasan secara klasikal.


Pendapat David P. Ausebul dalam Pentatito Gunowibowo (1998:6.7) menyebutkan bahwa metode ekspositori merupakan cara mengajar yang paling efektif dan efisien dalam menanamkan belajar bermakna. Selanjutnya Dimyati dan Mudjiono (1999:172) mengatakan metode ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah 1) menyusun program pembelajaran, 2) memberi informasi yang benar, 3) pemberi fasilitas yang baik, 4) pembimbing siswa dalam perolehan informasi yang benar, dan 5) penilai prolehan informasi. Sedangkan peranan siswa adalah 1) pencari informasi yang benar, 2) pemakai media dan sumber yang benar, 3) menyelesaikan tugas dengan penilaian guru.


Dari beberapa pendapat di atas, bahwa metode ekspositori yang digunakan dalam penelitian ini adalah mengobinasikan metode ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas. Pemberian tugas diberikan guru berupa soal-soal (pekerjaan rumah) yang dikerjakan secara individual atau kelompok. Adapun hasil belajar yang dievaluasi adalah luas dan jumlah pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang dikuasai siswa. Pada umumnya alat evaluasi hasil belajar yang digunakan adalah tes yang telah dibakukan atau tes buatan guru.


 

28 komentar:

zahara mengatakan...

mengapa dikatakan strategi ekspositori ini efektif untuk kelas yang besar

sunartombs mengatakan...

Strategi ini lebih banyak dilakukan dengan cara kuliah (instruksi guru secara lisan) dan siswa lebih banyak sebegai penerima pesan. Nah kalau jumlah siswa sangat banyak, startegi inilah yang cocok karena pengelolaan kelasnya cukup klasikal dan tidak membutuhkan waktu lama. Kelemahannya siswa menjadi tidak aktif.

khairil mengatakan...

apakah yang di maksud dengan model pembelajaran sinektis?

sunartombs mengatakan...

Berbicara tentang model-model pembelajaran, pada dasarnya hanya dikelompokkan menjadi 4, yaitu: Information processing, behavioral, social interaction dan personal. Nah sekarang bermunculan model-model pembelajaran yang baru seiring dg perkembangan dunia pendidikan. Namun kalau dicermati, model-model pembelajaran yg bermunculan masih merupakan bagaian atau identik dengan ke-4 model di atas. Sebagai bahan sharing pendapat Pak Khairil bisa membaca tulisan saya yang lebih lengkap di http://sunartombs.wordpress.com/2009/04/04/model-model-pembelajaran/

ghina mengatakan...

kalo drill seluk beluknya gmn???

sunartombs mengatakan...

terima kasih

sunartombs mengatakan...

Mbak ghina yang baik hati, drill sebenarnya tidak termasuk dalam metode pembelajaran. Namun merupakan bagian dari metode tanya jawab dalam pembelajaran, atau lebih tepatnya disebut instructional skills (keterampilan pembelajaran). Instructional skill ini ada 6, yaitu: Planning, presenting, direct giving, evaluating, questioning, demonstrating. Seharusnya dalam sebuah pembelajaran ke-6 keterampilan tersebut dilakukan semua. Namun jika yang terjadi adalah hanya questioning atau tanya jawab (tanya jawab yang dilakukan berulang-ulang namanya drill) saja, berarti ada yang hilang dari proses pembelajaran itu. Dengan begitu drill sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari keterampilan mengajar guru (bukan metode) dalam pembelajaran.

Rederika mengatakan...

Saya telah mencoba berbagai model pembelajaran, memang akan lebih menyenangkan dalam pembelajaran, dan siswa tidak bosan, tetapi sayang sering menyita waktu. Menurut pengawas saya masalah management waktu yang kurang baik. He he. Oh ya, tolong dong workshop tentang penerapan quantum learning di kabupaten Bogor buat guru-guru, saya sudah baca buku Bobby de Potter tapi kalau kita langsung dapat pengalaman melalui workshop kan lebih OK.

sunartombs mengatakan...

Hallo rederika!!
Senang atas komentar anda dalam tulisan ini. Dilihat dari cara anda berkomentar, anda pastilah orang yang aktif dalam berbagai kegiatan- utamanya dibidang akademik. Semoga dengan adanya anda di Bogor akan banyak membawa perubahan wajah pendidikan di sana.
Kalau anda minat anda serius untuk melaksanakan workshop atau pelatihan tentang model-model pembelajaran aktif bahkan digabung dengan ICT, itu memang kegiatan kami sehari-hari. Kami bahkan punya program baru yg disebut DALI (Developing Active Learning with ICT). Di Dalam program itu dilatihkan bagaimana menggunakan ICT untuk pembelajaran aktif. Juga dilatihkan dengan gamblang bagaimana mengelola keterbatasan teknologi yg dimiliki sekolah,namun bisa dimanfaatkan secara optimal untuk pembelajaran aktif (PAKEM).
Semuanya bisa kita atur kemudian. Salam Kenal dari kami.

Iswandi mengatakan...

ass...
saya butuh referensi tentang sistem pendidikan konvensional, mohon dibantu !

qobet mengatakan...

infonya membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir saya ... thanks ^_^

sunartombs mengatakan...

Boleh saja mas, kalau dipandang saya mampu

dita mengatakan...

saya membutuhkan literatur tentang penerapan strategi pembelajaran ekspositori.mohon sekiranya memberikan judul buku apa yang bisa saya cari tentang itu.agar saya mudah mencarinya.terimakasih

ikha mengatakan...

tolong dunk mnta pnjelasan lbih rinci ttg model pmbeljaran ekspositori ini,,??

N lngkh2 penerapanx d klas gmn??

dan apa model ini gag d perbolehkan guru membagi siswa dlm bbrp klompok..???

mkasih

i'am mengatakan...

apa bedanya ekspository dengan model pembelajaran langsung?
mohon di jawab buat referensi tugas akhir saya, thanks be4.

Rotuani mengatakan...

Saya ingin tahu buku2 ap yg sesuai dgn metode ini,mohon refrensi untk buku2 yg behubugan dgn metode ini,tq b4

MH. Taufik mengatakan...

Terima Kasih Mas...Telah Membuat Saya Lebih Memahami Perbedaan Metode Pembelajaran

ilham mengatakan...

diantara metode ekspositori dan metode diskusi mana yang lebih baik diantara kedua metode tersebut

sunartombs mengatakan...

semua metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Metode ekspositori mempunyai kelebihan jika digunakan untuk materi-materi yang baru sama sekali. Sedangkan diskusi mempunyai kelebihan jika digunakan untuk materi yang lebih bersifat pendalaman, jadi siswa tidak berbekal pengalaman kosong.

ika mengatakan...

asslmu alaikum. prbedaan mendasar metode ekspositori dgn metode ceramah ???
trus bsa tdk d perjelas sintaks dri metode ekspositori ini.??
mhon bantuannya.
mkasih

rizqi mengatakan...

thanks for your information, sukron li libayanuka(trimakasih untuk penjelasan anda)
hadzal bayan musa'adati(penjelasan ini membantuku)
li kitabah khittatul bahtsi wa risalah al-jami'ah(untuk menulis proposal dan proposal) kal maraji' (sebagai refrensi). sukron akhi..................

h'die mengatakan...

Makasih buat informasinya teman,materi ini saya sangat saya butuhkan dalam pembuatan skripsi saya.

h'die mengatakan...

Makasih buat informasinya teman,materi ini sangat saya butuhkan dalam pembuatan skripsi saya.

lathif mengatakan...

kenepa di sebut kegiatan di kuliah ya pak ??
bukanya yang kami rasakan sbg mahasiswa, malah kami di tuntut lebih aktif, seolah menggunakan metode ingkuiri, sedang sewaktu masih siswa kami selalu menggunakan metode eksposirori.. apa g bertentangan???

rokhim mengatakan...

mana daftar pustakanya pak???

sunartombs mengatakan...

Ya memang istilah itu sudah sejak jaman dulu begitu. Memang akhir-akhir ini para dosen juga sudah mulai dengan metode inquiri. Mungkin zaman dulu kalau kuliah ya sama dengan KULIAH UMUM begitu, seperti qotbah jumat. Mungkin untuk kontek sekarang nama itu sdh harus dirubah ya?

Bintarining Tyas mengatakan...

ok

Juniarti Manalu mengatakan...

ka, bisa minta daftar pustaka atau referensi dari tulisan diatas (tentang metode ekspository) ga? atau daftar bukunya bisa minta ga?
terimaksih sebelumnya